May 02

Sebagai makhluk yg berakal yg diciptakan ALLOH SWT, normalnya kita memiliki sifat malu. Banyak alasan mengapa kita MESTI memiliki sifat malu:
1. Pemalu merupakan sifat ALLOH SWT.
“Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Murah hati. Allah malu bila ada hambaNya yang menengadahkan tangan (memohon kepada-Nya) lalu dibiarkannya kosong dan kecewa.” (HR. Al Hakim)

2. Sifat malu membentengi kita dari perbuatan yang tidak sopan.
“Sifat malu adalah dari iman dan keimanan itu di surga, sedangkan perkataan busuk adalah kebengisan tabi’at dan kebengisan tabi’at di neraka.” (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

“Nabi Saw lebih malu daripada seorang gadis dalam pingitannya.” (HR. Bukhari)

3. Orang yg tidak punya malu, dia akan bersikap/melakukan tindakan yg merendahkan dirinya.
“Kalau kamu sudah tidak punya malu lagi, lakukanlah apa yang kamu kehendaki.” (HR. Bukhari)

Dengan demikian, sifat malu merupakan ciri khas orang beriman. Jika orang yg beriman melakukan tindakan yg tidak patut, maka dia akan malu. Sebaliknya, jika rasa malu sudah tidak ada pada diri orang yg beriman, sebagaimana hadits di atas, maka dia akan berbuat seenaknya, dan itu berarti musibah/celaka menimpa orang tersebut.

Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Iman itu ada enam puluh lebih cabangnya, dan malu adalah salah satu cabang iman.”

4. Malu akan membuat orang lebih banyak berbuat kebaikan.

Setidaknya ada jenis rasa malu yang mesti dimiliki seorang muslim:
1. Malu pada diri sendiri.
Jika kita punya rasa malu ini, maka kita malu saat berbuat sedikit kebaikan. Sebaliknya, kita akan senantiasa berbuat kebaikan sebanyak mungkin.

2. Malu pada orang lain.
Dengan memiliki rasa malu ini, kita akan selalu menghindar dari berbuat keburukan.

3. Malu pada ALLOH SWT.
Sifat malu ini merupakan sifat malu yg terbaik. Dengan memiliki rasa malu ini, insya ALLOH kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Apr 25

Hari Jum’at sudah ditetapkan sebagai hari istimewa, karena di hari Jum’at ini ada ibadah sholat Jum’at yang tertera dalam Al Qur’an, Al Jumu’ah(62):9,“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Saat sholat Jum’at, tidak hanya ibadah sholat yang dilakukan. Juga ada infaq dan shodaqoh.

Sholat Jum’at merupakan salah satu ibadah yang mesti dilakukan, karena ALLOH SWT menyatakan bahwa DIA menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepada ALLOH SWT. Mari kita perhatikan Adz-Dzariyat(56):51,“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Ada 2 jenis ibadah:
1. Ibadah khusus. Yang dimaksud dengan ibadah khusus adalah ibadah yg mempunyai aturan untuk melakukannya. Contohnya: sholat, zakat, ibadah haji, dll.
2. Ibadah umum. Sementara ibadah umum bisa dilakukan kapanpun. Contohnya: shodaqoh, infaq, senyum, dll.

Sebagai ibadah umum, infaq dan shodaqoh mempunyai keistimewaan, yakni berlipat gandanya ganjaran sedekah, seperti tertera pada Al Baqarah(2):261,“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Sementara itu, sedekah kepada orang miskin mestilah dilakukan dengan ikhlas. “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” Al Baqarah(2):263.

Kita harus yakin bahwa ALLOH SWT Maha Kaya, sehingga kita jangan ragu untuk bersedekah dan infaq, terlebih lagi untuk pembangunan masjid. Karena bersedekah/infaq untuk pembangunan masjid, insya ALLOH, akan menjadi amalan yang menolongnya kelak di akhirat, sebagaimana hadits Rasululloh SAW,”Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak (baik laki-laki maupun perempuan) yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Apr 18

Rasululloh SAW berkata kepada Ibnu Abbas,”Hai Ibnu Abbas, seandainya seluruh manusia berkumpul untuk mencelakakanmu, pasti tidak bisa jika ALLOH SWT tidak ‘memicu’ orang2 tersebut untuk mencelakakanmu. Demikian pula sebaliknya, selama tidak tertulis di Lauhin Mahfudz, maka tidak ada yg bisa menolongmu.”

Hakikat dari pernyataan Rasululloh SAW di atas adalah IMAN.

Pertanyaan: apakah kita termasuk ke dalam golongan orang yg yakin akan aturan ALLOH SWT?

Idealnya, kita senantiasa bersyukur kepada ALLOH SWT terhadap apa-apa yg kita terima dari-Nya. Realitanya, kebanyakan dari kita hanya mengingat ALLOH SWT di saat susah, sementara pada saat kenikmatan berupa kesenangan didapat, kita malah lupa dan seakan2 tidak mengenal ALLOH SWT.

Perhatikan As Sajadah(32):27,“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?”

Sesungguhnya, manusia di bumi tidak akan merasakan kebahagiaan jika ALLOH SWT tidak menurunkan kebahagiaan kepada manusia. Orang beriman memandang dunia sebagaimana tertulis pada Al Kahfi(18):45 - 46,“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. — Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Orang beriman akan menghadapi segala sesuatu dengan kesabaran. Ditimpa musibah, dia bersabar, menerima dengan lapang dada. Mendapat kenikmatan, dia bersabar, bersyukur terhadap nikmat yg dia terima dan berusaha tidak lupa dengan Sang Pemberi. Dengan kata lain, semua urusan adalah hal yg baik baginya.